Sedikit cerita dari Sekte 140
Macrostructure : Cerita Pendek Sekte 140
Prolog
Aku sering sekali menulis tetapi aku selalu mengkritisi tulsanku sendiri, sehingga banyak sekali karyaku yang hanya aku simpan dalam penyimpanan ponselku. Agaknya ini terlihat sombong, tetapi aku hanya menyampaikan bahwa kalian telah tersimpan dalam kenanganku sampai aku berani untuk mempublikasikan tulisan ini tanpa aku kritisi. "Ini bukan untuk Logbook"
"Terpujilah Tuhan Yang introvert"
Suprastructur
Aku benci sekali berkumpul dengan spesies manusia yang membatasi pikirannya dengan ketakutan kepada hal yang tidak pasti, pada ketidak tahuan mereka, kepada hal-hal yang menurut mayoritas dianggap salah. Mereka takut pada konsekuensi buruk yang mungkin akan terjadi -kita anggap saja masuk neraka- atau mungkin tidak akan terjadi. Mereka takut melakukan hal yang tidak sesuai dengan kebenaran perspektif masyarakat yang padahal jika mau mempelajari pikiran Michel Foucault, kita akan menyadari bahwa kebenaran yang dikonsumsi oleh masyarakat -atau bahkan diri kita sendiri- adalah hasil dari kontruksi sosial. Maka dari itu agar terbebas dari kendali logika mayoritas adalah berpikir diluar dari tempurung mayoritas, dengan cara setidaknya menyisakan sedikit ruang untuk keraguan kepada segala hal yang telah kita -atau masyarakat- anggap benar.
Sial sekali, nasib malang menimpa diriku. Pada tanggal 28 Juli 2024 lalu aku terpaksa berkumpul dengan jenis manusia yang aku benci.
Katin Kampus 2 UIN Bandung merupakan tempat perjumpaan pertama aku dengan mereka. Sebelumnya aku tidak pernah bertemu mereka, baik itu langsung ataupun secara online. Sebelumnya juga aku hanya berkomunikasi melalui chat WA dengan beberapa orang diantara mereka yang salah satunya adalah Khalifah 140. Aku nyelonong dibelakang sepasang kekasih yang sedang memadu asmara dan akan dipisahkan sesaat oleh KKN. Tak lama beberapa ekor dari orang-orang menyebalkan itu datang dengan barang-barang yang cukup banyak. Berbicara sekilas dan tak lama mobil pengangkut barang tiba, lalu kami berangkat ke Tempat Kejadian KKN.
Minggu pertama dan kedua merupakan hari-hari yang sangat lucu nan menjijikan, dimana aku disuguhkan oleh penampakan kemunafikan dan kepura-puraan mereka. Aku juga tidak ingin kalah oleh mereka, aku berpura-pura tidur lebih awal, tidak banyak menampilkan kegilaan, tidak mengenakan celana pendek yang sebenarnya akan terungkap pada Minggu selanjutnya.
Hampir setiap malam kami menunaikan ibadah evaluasi yang sebetulnya adalah pertunjukan kemunafikan dan kenaifan secara berjamaah yang diimami oleh khalifah kita "kang Abdul". Bagaimana tidak, hampir setiap malam kita mengkritik satu pada yang lain atau pada diri sendiri yang keesokan harinya perbincangan dari ibadah semalam tidak dilakukan. Seperti bangun tidur ku terus tidur kembali, mandi tidak teratur, acara hampir selalu ngaret serta fenomena mengerikan lainnya.
Tidak ada yang berkesan pada dua Minggu awal. Minggu ketiga kami mulai sedikit fokus pada program kerja yang telah disepakati. Aku pada UMK, sebagian pada kesehatan sebagian lainnya pada pendidikan. Aku tidak terlalu memikirkan hal yang ideal untuk program kerja yang aku kerjakan. Aku hanya berusaha menyadari beberapa potensi yang dunia cidawalong tampakan yang sekiranya bisa kami lakukan. Kami memulai dengan beberapa kunjungan sekilas pada beberapa UMKM.
Aku dibuat takjub dengan pabrik waring yang ada di sana, mereka mampu memproduksi bahan mentah untuk mereka produksi lagi sampai menjadi barang yang memiliki nilai Tukar. Percis sekali dengan yang dikatakan Marx -atau bahkan melampaui Marx. Tidak kusangka aku melihat langsung apa yang dilihat Marx di negri makmur, adil dan kaya ini dengan ditemani oleh orang-orang yang tidak peduli akan hal tersebut.
Beberapa peristiwa di posko juga ada yang menakjubkan. Seperti ada yang membagikan hasil endorsenya kepada teman-temannya, Ada seorang perempuan yang mengajari orang lain memasak, memasukan motor setiap malam, dengan ikhlas membersihkan kotoran di piring-piring dan lantai, memberikan hasil karyanya pada bocils dan berbagai pertunjukan bermoral lainnya.
Acara Agustusan tidak aku tuliskan karena tidak ada yang menarik, membosankan dan kumaha urang weh.
Hampir memasuki Minggu akhir, kami hiasi dengan tercapainya target proker setiap bidang dan kami bereskan juga program kerja besarnya. Untuk kami di bidang UMK yang menunaikan ibadah proker paling cepat walau kami yang paling malas malasan. Yah mau gimana lagi, mungkin tuhan mendukung kemalasan kami, makanya semua tuhan permudah untuk kami agar bisa segera bermalas-malasan kembali.
Senang rasanya semua proker telah selesai. Seolah telah melewati Shirat al-Mustaqim hingga sampa di taman sorga para Nabi. Bahagia sedikit bangga, namun tak lama diguncang oleh ingatan bahwa beberapa hari lagi perkuliahan semester selanjutnya akan segera dimulai. Itu artinya kami akan segera berpisah dan kembali menjalani dunia kampus penuh teori tetapi tidak berguna.
Minggu akhir kami memutuskan untuk memilih mengunjungi tempat wisata di Garut. Tempat yang semestinya orang waras tidak kunjungi, karena tempat tersebut terdapat air panas yang mengandung belerang, artinya gunung yang akan dikunjungi berpotensi aktif atau bahkan memang gunung aktif, maka sewaktu-waktu gunung tersebut bisa meletus. Ya memang kami sudah gila, namun sepertinya hanya aku yang menyadari kegilaan ini.
Hari di mana berwisata telah tiba. Perjalanan hampir mulus seperti seharusnya. Kami tiba, berpesta, bercerita dan ada yang berperang kata-kata. Kemeriahan malam itu berakhir pada pukul 02.00 dini hari, kami tidur penuh lelah, walaupun ada juga yang tidak bisa tidur karena tempat yang tidak memadai.
Secerca sinar menjijikan yang ku sebut perasaan sedih tiba-tiba menyapa intuisiku untuk menyampaikan perasaan sedih, karena esoknya aku harus segera meninggalkan mereka. Aku harus meninggalkan mereka agar mereka tidak terlalu banyak memberikan makna untuk hidupku. Beruntungnya aku, rasa kantuk yang kuat membantuku melupakan perasaan itu hingga tertidur lelap namun tidak terlalu lelap karena bau kentut si Jarjit yang mencemari alam dunia.
Pagi hari tiba, aku melakukan kegilaan satu lagi "berendam di air panas yang mengandung belerang". Tak lama aku bergegas pulang, sampai di posko, makan siang dan bersiap untuk pulang.
Aku pulang dengan berpamitan kepada bu rw dan pak rw yang ada di rumahnya. Mataku hampir dibanjiri oleh air mata, untungnya hanya dua orang yang menyadari itu, yakni orang terakhir yang aku jumpai di posko, tetapi nampak mata haru ditampilkan oleh pak rw, untungnya juga aku tidak terlalu terpancing, memutuskan untuk sesegera mungkin meninggalkan bumi Cidawalong.
Microstructur
Dalam perjalanan pulang aku disapa oleh anak-anak yang baru berpulang sekolah. Mereka mengatakan "dih a Noval pulang?". Sembari mengendarai motor aku menjawab "iya, nanti kita ketemu lagi ya". Mereka melambaikan tangan, aku melihatnya dari spion motor dan juga membalas lambaian tangan mereka.
Beberapa kilometer selanjutnya, aku berhenti sejenak untuk mengecek barang-barang dalam tas. Semuanya aman, namun sial sekali apa yang dikatakan Henri Bergson mulai aku alami. Aku melihat nametag yang seketika diriku bernostalgia atas kenangan selama sebulan sebelumnya. Rasa haru menyentuh bagian hati yang paling halus, semua kenangan -bahagia, kesal, cerita cinta, bodoh, bangga, malu, malas- mengeroyok hati nurani. Selama ini aku bukan manusia yang tidak memiliki intuisi tetapi intuisiku memilih untuk tidak memperdulikan hal-hal tidak memiliki nilai moral. Seketika aku menangis sejadinya, air mata bercucuran, aku hapus satu persatu. Rasanya berat meninggalkan kalian dengan segala kenangan yang telah kalian berikan padaku.
Aku tidak akan melupakan kebaikan warga cidawalong terutama pak-bu rw 17. Aku merasa memiliki orang tua di sana. Aku tidak akan melupakan segala kenangan yang telah kalian ukir di lubuk hati yang tidak dalam namun memiliki bekas yang sangat estetik. Kalian adalah keluarga selama bulan Agustus. Aku tidak ingin terlalu lama bersama kalian karena hal itu bisa memudarkan lukisan makna yang telah kita lukis dengan begitu indah.
Epilog
Aku sering mendapat sanjungan "seba bisa" . Sejujurnya aku bukan manusia yang serba bisa, setiap orang memiliki potensi untuk melakukan apapun yang dia mau. Aku melakukan semua itu tidak selalu dengan keterampilan yang aku dapatkan melalui pengalaman, tetapi kita semua diberikan modal oleh Tuhan untuk bertahan hidup dan melakukan apapun. Apa itu? Itu adalah berpikir mandiri. Sejujurnya kita semua bisa melakukan apapun jika kita mau menggunakan pikiran kita dengan baik. Sejauh ini belum ditemukan batas dari pikiran manusia, namun manusia lah yang dengan seenaknya memberi batas pada pemikirannya sendiri. Banyak sekali individu yang dengan sengaja meninabobokan pikiran yang telah tuhan berikan untuk mereka gunakan. Pikiran layaknya pisau yang bisa menyayat apapun tergantung tingkat ketajamannya. Maka dari itu, untuk memecahkan segala masalah maka perlu untuk mengasah pikiran kita.
Apakah hanya dengan pikiran dapat merubah dunia?. Sayang sekali disini aku harus menyangkal Descartes. Pikiran saja tidak akan mampu merubah apapun selain dari pandangan individu pada dunia. Individu dapat merubah dunia apabila pikirannya mampu dituangkan atau setidaknya dirinya mau bergerak untuk menggerakkan dunia.
Jika Descartes mengatakan "aku berpikir maka aku ada". Maka aku katakan "aku berpikir dan bergerak, maka dunia ada dalam genggamanku".




















Komentar
Posting Komentar